Antara Paspor, Akar, dan Utopia: Why I'm Still Here?

 


Jujur saja, terkadang saya merasa lelah. Ada hari-hari di mana saya ingin mengepak koper, mencari negara dengan sistem yang benar-benar pro-rakyat, dan tinggal di sebuah utopia di mana pajak yang saya bayar kembali dalam bentuk jaminan kesehatan seumur hidup, jalan yang mulus, pendidikan gratis sampai level universitas atau transportasi publik yang nyaman. Saya rasa, tagar #kaburajadulu yang sempat ramai di X itu bukan sekadar tren; itu adalah jeritan bawah sadar dari kita yang sudah letih berjuang sendirian melawan birokrasi yang carut marut dan berita korupsi yang datang bertubi-tubi seperti sarapan pagi. Siapa yang tidak ingin hidup tenang di negeri yang sistemnya sudah "selesai", di mana kita tidak perlu menjadi kaya raya dulu hanya untuk mendapatkan hak dasar sebagai warga negara?

Belakangan ini, linimasa kita riuh dengan perdebatan soal penerima beasiswa negara yang enggan pulang hingga urusan pindah kewarganegaraan demi masa depan anak yang lebih terjamin di negeri orang. Kita seperti disuguhi tontonan orang-orang pintar yang lebih memilih memajukan peradaban bangsa lain dengan alasan Indonesia terlalu 'berantakan' untuk mereka urusi—padahal negara justru menyekolahkan mereka untuk merapikannya. Lalu ramai-ramai netizen kita menghakimi mereka sebagai sosok yang tidak tahu terima kasih dan juga pengkhianat karena beasiswa untuk meraih pendidikan tinggi tersebut didapat dari pajak yang dibayarkan oleh para petani atau ojol yang mungkin tidak bisa menyekolahkan anaknya sampai universitas.

Apakah Indonesia memang hanya layak ditinggali oleh mereka yang terlalu miskin untuk membeli pintu keluar atau tidak punya pilihan pergi?

And why I'm still here? 

Mencintai Indonesia, bagi saya, sering kali terasa seperti menjalin hubungan yang toxic. Saya memberi kepatuhan, tapi yang saya dapatkan adalah jalanan berlubang dan hukum yang kadang tumpul ke atas. Ada momen di mana saya merasa "negara tidak memberi banyak pada saya." Dalam kondisi ini, nasionalisme saya berada di titik nadir. Namun, di tengah rasa sinis itu, muncul fenomena lain: Seablings (South East Asian Siblings). Di Threads dan X, saya melihat bagaimana netizen kita yang biasanya hobi berdebat soal klaim budaya dengan tetangga tiba-tiba pasang badan saat martabat saudara serumpun diusik oleh narasi rasis dari luar. Pemicunya kali ini adalah kasus netizen Korea yang menyerang SARA kepada warga Malaysia di sebuah konser K-pop. Dalam sekejap, perbedaan paspor itu luruh. Netizen kita tidak membela atas dasar instruksi negara, melainkan atas dasar solidaritas organik. Di sini kita melihat sebuah bentuk nasionalisme baru: kita mungkin sering memaki rumah sendiri, tapi jangan harap pihak luar bisa merendahkan martabat kita atau saudara serumpun kita tanpa perlawanan.

Fenomena Seablings ini menyadarkan saya bahwa nasionalisme kita sering kali justru diselamatkan oleh sesama rakyat, bukan oleh kebijakan. Kita mungkin sering memaki sistemnya, tapi kita tidak akan pernah membiarkan "identitas" kita direndahkan. 

Banyak yang menyebut nasionalisme kita hanyalah "pseudo-nationalism" atau nasionalisme semu, yang hanya muncul saat ada pertandingan bola atau saat budaya kita diklaim tetangga. Tapi benarkah demikian?

Utopia itu memang menggiurkan. 

​Siapa yang tidak ingin tinggal di negara di mana segalanya terasa nyaman dan terjamin? Ada rasa lelah yang luar biasa ketika kita harus berjuang melawan sistem—saat kita merasa harus menjadi "lebih kaya" hanya untuk mendapatkan perlindungan atau hak yang seharusnya dijamin negara. Keinginan untuk pindah ke negara utopia tersebut seringkali bukan karena kita tidak cinta Indonesia, tapi karena kita lelah berjuang di sistem yang tidak suportif.

Keinginan saya untuk pergi ke negara lain kadang muncul jika sudah lelah dan kecewa pada sistem, namun pada akhirnya ada "akar" yang sulit dicabut. Kadang ada rasa nyaman saat mendengar logat daerah atau candaan lokal, beragam kuliner dengan rasanya yang khas dan sulit dilupakan, murah dan mudahnya untuk mendapatkan bahan makanan pokok, tanah yang subur, matahari yang bersinar sepanjang tahun—yang belum tentu akan saya temukan di utopia mana pun. Nyatanya saat ini saya masih memilih untuk tetap setia di sini, bukan karena saya tidak tahu ada dunia yang lebih indah di luar sana, tapi karena saya percaya bahwa Indonesia tetap layak untuk dicintai dan juga diperjuangkan. 

Jika seseorang akhirnya memilih pergi demi masa depan anak-anaknya atau kesehatan mentalnya, itu adalah sebuah pilihan hidup, selama tidak merugikan orang lain. Namun,bagi yang memilih bertahan (meski setiap hari mengeluh di X atau Threads), mereka adalah kelompok "optimis yang keras kepala".

Ada ironi yang menyesakkan saat kita terus membicarakan pengabdian dan cinta tanah air, sementara di balik itu banyak dari kita sedang sibuk menghitung peluang untuk melintasi perbatasan. Kita terjepit di antara narasi tentang kewajiban moral untuk pulang dan realita getir tentang sistem yang sering kali tidak ramah bagi mereka yang jujur. Namun, pada akhirnya, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri dengan jujur: apakah alasan kita masih bertahan di sini adalah sebuah pilihan sadar karena percaya pada masa depan negeri ini? Atau, jangan-jangan kita hanya bagian dari mayoritas yang terpaksa "setia" karena paspor dan saldo tabungan kita belum cukup kuat untuk membeli tiket menuju utopia di negeri orang? Di titik ini, mencintai Indonesia mungkin bukan lagi tentang retorika, melainkan tentang keberanian untuk tetap tinggal saat pintu keluar terlihat begitu menggoda. 


Comments

Post a Comment

Popular Posts