I AM ME: As I Am

 


I Am Me
By: Wordsmary

I am an artist, a poet, a cook,
Crafting my world with every look
I am a sister, a daughter, a love
Tied to the earth, yet dreaming above

I wear so many faces, I play so many parts
Pieces of a puzzle, echoes of my heart

I am me, I am me
A blend of strength and something weak
I’m a fighter, a lover, a dreamer too
In every shade, my colors shine through

I am a realist, a pessimist, a downer
But I’m a leader, a listener, a follower
A thinker, believer, and sometimes unsure
In my contradictions, I find my allure

The world may try to label, but they’ll never see
The endless universe that lives inside of me

I’m a mixture, a freak, a beautiful storm
Breaking the mold, redefining the norm
Through highs and lows, I’ll always stay true
The story I tell is uniquely my view

I am me, I am complete,
A thousand songs in a single beat
I am me, forever free,
A work of art, my own melody

---

“I Am Me” ditulis pada November 2024, di fase ketika saya tidak sedang mencari definisi baru tentang diri, tapi mencoba berdamai dengan yang sudah ada. Tulisan ini lahir bukan dari keinginan untuk menjelaskan, melainkan untuk mengakui dan menerima. 

Bahwa menjadi manusia bukan soal memilih satu identitas lalu setia padanya seumur hidup. Kita tumbuh sebagai banyak hal sekaligus dan sering kali saling bertabrakan. Kuat tapi rapuh. Percaya diri tapi ragu. Ingin memimpin, tapi juga ingin didengarkan. Dan tidak ada yang salah dengan itu.

Di dunia yang gemar memberi label, isi puisi ini seperti penolakan halus: saya tidak bisa diringkas dalam satu label. 

Setiap barisnya memuat kesadaran bahwa identitas bukan sesuatu yang statis. Kita adalah hasil dari peran yang terus berubah—seorang anak, saudara, pasangan, pencipta, pemimpi. Semua hidup berdampingan, kadang rapi, kadang berisik.

Saya tidak mencoba menyempurnakan diri. Tidak pula menutupi kelemahan juga tidak menyingkirkan sisi gelap. Justru kontradiksi itulah yang dirayakan. Karena di sanalah manusia menjadi nyata.

“In my contradictions, I find my allure” terasa seperti pengakuan yang jarang kita berani ucapkan. Sebuah titik penerimaan: bahwa semua versi diri—yang kuat dan lemah, yakin dan ragu—bisa hidup berdampingan, dan dari sanalah kejujuran muncul. Dan justru dari ketidaksempurnaan itulah lahir pesona yang paling jujur dan berani hadir apa adanya. 

Puisi ini juga berbicara tentang kebebasan. Bukan kebebasan untuk menjadi siapa saja, tapi kebebasan untuk tidak harus menjelaskan diri pada semua orang. Dunia boleh mencoba mengotak-ngotakkan, tapi tidak semua hal perlu masuk ke dalam definisi yang rapi dan terstruktur.

Menjadi “a beautiful storm” bukan berarti selalu kuat. Kadang berarti berantakan tapi jujur. Bergerak dengan caranya sendiri. Tidak selalu mudah dimengerti, tapi tetap setia pada suara hati.

Dan mungkin, inti dari puisi ini sederhana:
bahwa menjadi utuh tidak selalu berarti lengkap. Kadang cukup berarti menerima semua potongan diri—tanpa memilih mana yang layak ditampilkan, mana yang harus disembunyikan.

“I am me” bukan pernyataan ego. Ia adalah bentuk berdamai dengan diri sendiri.

Dengan semua warna.
Dengan semua nada.
Dengan cerita yang tidak akan pernah sama dengan siapa pun.

Karena pada akhirnya, kita bukan versi terbaik dari standar apa pun.
Kita hanya sedang menjadi versi paling jujur dari diri sendiri.

Dan itu—lebih dari cukup.

Lalu puisi ini tidak berhenti hanya sebagai teks. Ia kemudian berubah bentuk—menjadi lirik lagu berjudul yang sama, I Am Me, dengan sedikit penyesuaian lirik agar selaras dengan silabel dalam sebuah penciptaan lagu, diramu oleh novaAIra, sebuah project musik berbasis AI dengan cita rasa global. Musiknya bergerak di wilayah yang sulit dikotakkan: modern, edgy, atmosferik dan terbuka pada banyak pengaruh.
Project musik ini digagas oleh sahabat saya sendiri—seorang radioheaddict, fans berat Radiohead, yang kegemarannya bereksplorasi dengan berbagai genre musik, lapisan emosi, dan ketidakteraturan yang unik terasa jelas dalam aransemen lagunya. AI di sini bukan sekadar alat, tapi medium lain untuk menerjemahkan perasaan yang sama: tentang identitas, kontradiksi, dan keberanian menjadi diri sendiri.

Perpindahan dari puisi ke lagu membuat membuat maknanya menemukan bentuk dan ruang baru. Kata-kata yang tadinya dibaca pelan kini bernapas lewat nada. Kontradiksi yang ditulis kini terdengar. Dan kalimat “I am me” tidak lagi hanya sebuah pernyataan—ia menjadi pengulangan yang terasa seperti afirmasi.

Mungkin karena itu puisi ini terasa menemukan rumah barunya dalam musik. Karena identitas, seperti lagu, tidak pernah satu lapis. Ia terdiri dari ritme yang berubah-ubah, notasi yang dinamis, dan harmoni yang tidak selalu rapi.

Dan seperti lagu, kita tidak selalu perlu menjelaskan diri kita sepenuhnya.
Cukup membiarkannya terdengar.

Bagi saya, perubahan medium ini bukan soal teknologi atau AI-nya. Lebih sebagai pengingat bahwa satu teks bisa hidup dalam banyak cara. Bahwa kata-kata yang sama bisa dibaca, didengar, dan dirasakan dengan lapisan yang berbeda. Puisi tetaplah puisi. Lagu tetaplah lagu. Keduanya berdiri di jalurnya masing-masing, saling melengkapi tanpa saling menggeser.

Jika ingin mendengarkannya, lagu ini tersedia berbagai platform musik digital, di antaranya:

🎧 YouTube Music:
https://music.youtube.com/watch?v=Jlvx2YkXy_U&si=umNu6hgJxxiKAPaG

🎧 Spotify:
https://open.spotify.com/intl-id/track/1FhL13VgUEuvGc6yme4XTT?si=2e3305357b7d44be

Comments

Post a Comment

Popular Posts