The Medium and The Choice

 


Menjadi ibu adalah spektrum yang luas. Bagi sebagian perempuan, menjadi ibu bukan hanya sekadar fungsi biologis yang selesai setelah persalinan. Ia adalah kontrak kerelaan seumur hidup untuk menjadikan tubuh dan jiwa kita sebagai medium, sebuah jembatan bagi nyawa lain untuk menyeberang ke dunia. 

Namun, ada jenis ibu lain yang perannya tidak lahir dari rahim, melainkan dari sebuah pilihan sadar yang tak kalah hebatnya. Tidak butuh kesamaan kromosom untuk bisa berserah sepenuhnya pada peran ini; cinta yang lahir dari pilihan, bukan sekadar warisan biologis. Di sana, peran "medium" tidak terjadi di ruang persalinan, melainkan di ruang-ruang harian. Pada setiap suapan makanan, pada setiap pelukan saat ia ketakutan, dan pada setiap doa yang dipanjatkan tanpa henti. Mereka adalah ibu yang rahimnya mungkin tidak pernah meregang, namun hatinya mampu menampung seluruh beban dunia demi anak yang tidak berbagi setetes pun DNA dengannya.

Pada akhirnya, esensinya tetap sama: tak semua orang bisa atau siap menjadi ibu. Baik lewat darah daging sendiri atau melalui jalur adopsi dan asuhan, prioritas tentang "aku" tetap harus luruh. Anak-anak, dari mana pun asal usulnya, akan tetap menyedot seluruh perhatian dan energi kita. Itulah mengapa predikat "ibu" bukan sekadar status medis, melainkan sebuah gelar pengabdian yang tidak butuh validasi golongan darah untuk membuktikan ketulusannya.

Saya kemudian belajar bahwa seorang perempuan tidak butuh tali pusar untuk bisa merasakan detak jantung anaknya. Sebab, hakikat menjadi ibu bukanlah siapa yang telah melahirkan, tapi siapa yang memutuskan untuk tetap tinggal, merawat, dan pasang badan saat dunia terasa tidak ramah.

​I confess, I have so many flaws, dan mungkin jauh dari gambaran ibu sempurna menurut bingkai norma. Tapi satu hal yang pasti, apa pun akan saya lakukan untuk anak saya. Ada proses tarik ulur rasa yang berat, karena realita cinta itu kadang bentuknya keras dan menyakitkan. Kita tidak hanya membesarkan mereka, tapi mempersiapkan mereka untuk menghadapi the harsh reality of life di depan sana.

Salah satu cara bertahan di dunia nyata adalah dengan belajar memilah. Saya selalu bilang pada anak saya: don’t overshare to me. Kalimat ini mungkin terdengar dingin bagi telinga orang lain, namun ini adalah bentuk kemandirian yang sedang saya tanam. Saya tak ingin dia tumbuh menjadi dewasa yang tidak tahu cara memroses masalahnya sendiri. Bukan karena tidak mau mendengar, tapi agar dia belajar memilah mana hal yang harus diselesaikan sendiri dan memiliki batasan. Kelak, dia akan punya pasangan, dan jika semua hal harus lari ke ibunya, kebiasaan itu bisa melukai hubungan mereka sendiri. Pasanganmu adalah your support system yang menemani dalam suka duka. Namun, di atas semua batasan yang saya buat, ada satu janji yang takkan pernah luntur. Dekat atau jauh jarak kita, sedang benar atau salah sikap ibumu ini, don’t ever doubt my love for you. Di dunia yang mungkin akan menghakiminya, saya adalah orang pertama yang akan pasang badan. I’ll take the bullet for you, my son. Selalu.

Mari bersulang untuk semua perempuan yang telah memilih peran ini dengan segala bentuknya. Entah lewat jalur biologis yang penuh peluh, atau lewat jalur pilihan hati yang penuh keberanian. Sebab pada akhirnya, dunia tidak akan bertanya lewat pintu mana seorang anak datang, melainkan seberapa kokoh lengan yang mendekapnya saat ia menangis. Ada keagungan yang setara antara ia yang merelakan tubuhnya koyak demi sebuah kelahiran, dengan ia yang merobek seluruh ego dan kenyamanannya demi menerima kehadiran jiwa yang asing. Keduanya sama-sama mempertaruhkan sisa hidupnya. Keduanya sama-sama kehilangan waktu tidurnya. Dan keduanya sama-sama memiliki hak mutlak untuk menyebut dirinya "Ibu".

Menjadi ibu adalah sebuah calling, panggilan jiwa yang melampaui sekat-sekat DNA. Maka, untuk kamu yang membesarkan darah dagingmu sendiri, atau kamu yang menjadi oase bagi anak yang lahir dari rahim perempuan lain: kalian adalah bukti bahwa cinta tidak selamanya harus mengalir di pembuluh darah. Kadang, cinta hanya butuh tempat untuk pulang, dan kalian telah menjadi rumah yang paling teduh.

__________

A little tribute to my SONshine, Bill ❤

Messy, flawed, but fiercely yours. Proud to be the one you call "Ibu".

Comments

Post a Comment

Popular Posts